RSS

Laporan Fiswan Sistem Ekskresi

05 Mei

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
EKSKRESI (PEMERIKSAAN URINE)

Disusun oleh :
Kelompok 6
Iyus Abdussyakir 1110016100007
Syifa Fauziah 1110016100009
Husnul Khotimah 1110016100014
Irma Suryani 1110016100015
Novutri Pertiwi 1110016100033

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2012

Tanggal Praktikum : 10 April 2012
A. Tujuan Praktikum
Memeriksa ada tidaknya glukosa dalam urine

B. Dasar Teori
Sistem ekresi merupakan sistem yang berperan dalam proses pembuangan zat-zat yang sudah tidak diperlukan (zat sisa) ataupun zat-zat yang membahayakan bagi tubuh dalam bentuk larutan. Ekresi terutama berkaitan dengan pengeluaran-pengeluaran senyawa-senyawa nitrogen. Selama proses pencernaan makanan, protein dicernakan menjadi asam amino dan diabsorpsi oleh darah, kemudian diperlukan oleh sel-sel tubuh untuk membentuk protein-protein baru. Mamalia memiliki sepasang ginjal yang terletak dibagian pinggang (lumbar) dibawah peritonium. Urine yang dihasilkan oleh ginjal akan mengalir melewati saluran ureter menuju kantung kemih yang terletak midventral dibawah rektum. Dinding kantung kemih akan berkontraksi secara volunter mendorong urine keluar melalui uretra. (Kurniati, 2009).
Makhluk hidup menghasilkan zat-zat sisa yang harus dikeluarkan. Zat ini dapat menjadi racun jika tidak dikeluarkan oleh tubuh. Proses pengeluaran zat sisa dari tubuh antara lain sekresi, ekresi, dan defekasi. Sekresi merupakan suatu proses pengeluaran zat yang berbentuk cairan oleh sel-sel atau jaringan. Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat siasa metabolisme dari tubuh yang sudah tidak dapat digunakan lagi seperti pengeluaran urine, keringat, dan CO2 dari tubuh. Defekasi merupakan prses pengeluaran feses dari tubuh. Alat ekskresi manusia adalah paru-paru, ginjal, kulit, dan hati (Karmana, 2007).
Setiap hari tubuh kita menghasilkan kotoran dan zat-zat sisa dari berbagai proses tubuh. Agar tubuh kita tetap sehat dan terbebas dari penyakit, maka kotoran dan zat-zat sisa dalam tubuh kita harus dibuang melalui alat-alat ekskresi. Sistem ekresi adalah proses pengeluaran zat-zat sisa hasil metabolisme yang sudah tidak digunakan lagi oleh tubuh. Sedangkan kebalikan dari sistem ini adalah sistem sekresi yaitu proses pengeluaran zat-zat yang berguna bagi tubuh. Alat-alat ekskresi manusia berupa ginjal, kulit, hati, paru-paru dan colon. Hasil sistem ekskresi dapat dibedakan menjadi : Zat cair yaitu berupa keringat, urine dan cairan empedu, Zat padat yaitu berupa feces, Gas berupa CO2 dan Uap air berupa H2O (Poedjadi, 2005).
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Pengeluaran urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh.
Secara umum urin berwarna kuning. Urin encer warna kuning pucat (kuning jernih), urin kental ber-warna kuning pekat, dan urin baru / segar berwarna kuning jernih. Urin yang didiamkan agak lama akan berwarna kuning keruh. Urin berbau khas jika dibiarkan agak lama berbau ammonia. Ph urin berkisar antara 4,8 – 7,5, urin akan menjadi lebih asam jika mengkonsumsi banyak protein,dan urin akan menjadi lebih basa jika mengkonsumsi banyak sayuran. Berat jenis urin 1,002 – 1,035.
Secara kimiawi kandungan zat dalan urin diantaranya adalah sampah nitrogen (ureum, kreatinin dan asam urat), asam hipurat zat sisa pencernaan sayuran dan buah, badan keton zat sisa metabolism le-mak, ion-ion elektrolit (Na, Cl, K, Amonium, sulfat, Ca dan Mg), hormone, zat toksin (obat, vitamin dan zat kimia asing), zat abnormal (protein, glukosa, sel darah Kristal kapur dsb)
Volume urin normal per hari adalah 900 – 1200 ml, volume tersebut dipengaruhi banyak faktor di antaranya suhu, zat-zat diuretika (teh, alcohol, dan kopi), jumlah air minum, hormon ADH, dan emosi.

Interpretasi warna urin dapat menggambarkan kondisi kesehatan organ dalam seseorang.
a. Keruh. Kekeruhan pada urin disebabkan adanya partikel padat pada urin seperti bakteri, sel epithel, lemak, atau Kristal-kristal mineral.
b. Pink, merah muda dan merah. Warna urin seperti ini biasanya disebabkan oleh efek samping obat-obatan dan makanan tertentu seperti bluberi dan gula-gula, warna ini juga bisa digunakan sebagai tanda adanya perdarahan di system urinaria, seperti kanker ginjal, batu ginjal, infeksi ginjal, atau pembengkakkan kelenjar prostat.
c. Coklat muda seperti warna air teh, warna ini merupakan indicator adanya kerusakan atau gangguan hati seperti hepatitis atau serosis.
d. Kuning gelap, Warna ini disebabkan banyak mengkonsumsi vitamin B kompleks yang banyak ter-dapat dalam minuman berenergi.

C. Alat dan Bahan

Tabung reaksi Gelas ukur Spirtus Penjepit Pipet

Stopwatch Urine Larutan Benedict AgNO3 Asam Nitrit

D. Langkah Kerja
Uji Glukosa

1 ml larutan Benedict ditambahkan kedalam tabung reaksi

Dipanaskan menggunakan spirtus

Kemudian ditambahkan 8 tetes urine

Dipanaskan kembali
Uji Albumin

2,5 ml asam nitrat ditambahklan kedalam tabung reaksi

Kemudian ditambahkan 3-5 tetes urine
Uji Chlorida

5 ml urine ditambahkan kedalam tabung reaksi

Kemudian ditambahkan 5 tetes AgNO3
Uji Amonia

1 ml urine dipanaskan menggunakan spirtus

E. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengujian Kandungan Glukosa dalam Urin

Sample Urin Hasil perubahan warna akhir Keterangan
A Hijau muda Positif (Kadar glukosa 1%)
B Hijau tua Positif (Kadar glukosa 1%)

2. Tabel Pengujian Kandungan Albumin dalam Urin
Sample Urin Ada tidaknya cincin putih Keterangan
A Tidak ada Negatif/-
B Tidak ada Negatif/-

3. Tabel Pengujian Kandungan Chlorida dalam Urin
Sample Urine Ada tidaknya endapan putih Keterangan
A Ada Sedikit endapan putih (warna urine kuning jernih)
B Ada Sedikit endapan putih (warna urine kuning keruh)

4. Tabel Pengujian Kandungan Ammonia dalam Urin
Sample Urine Ada tidaknya bau ammonia Keterangan
A Ada Menyengat
B Ada Kuramg Menyengat

F. Pembahasan
Pada percobaan uji yang pertama yaitu untuk mengetahui adanya kandungan glukosa dalam urine. Uji ini dilakukan dengan menggunakan larutan benedict, karena fungsi larutan benedict adalah sebagai pemeriksa ada atau tidaknya kandungan glukosa dari suatu sampel percobaan. Pada urin sample A terjadi perubahan warna dari warna biru berubah menjadi warna hijau setelah pembakaran, sedangkan pada urin sample B tidak terjadi perubahan warna. Hal tersebut menunjukan bahwa, pada urin sample A mengandung kandungan kadar glukosa 1%.
Dari hasil yang didapatkan kemungkinan pemilik urin sample A mengalami Glikosuria, ini disebabkan adanya kerusakan pada tabung ginjal, ataupun Diabetes Melitus (Kencing Manis), yang disebabkan karena pankreas tidak menghasilkan atau hanya menghasilkan sedikit sekali insulin. Insulin adalah hormon yang mampu mengubah glukosa menjadi glikogen sehingga mengurangi kadar gula dalam darah. Selain itu, insulin juga membantu jaringan tubuh menyerap glukosa sehingga dapat digunakan sebagai sumber energi. Penyakit ini menyebabkan penderitanya sering buang air kecil, cepat haus dan lapar, serta menimbulkan masalah pada metabolism lemak dan protein. Akan tetapi bisa juga merupakan glukosa palsu yang diakibatkan karena pemilik urin sering mengkonsumsi minuman yang terbuat dari pemanis buatan dan dibarengi oleh kebiasaan kurang minum air putih, karena kandungan glukosa pemilik urin memiliki kadar glukosa 1%. Sedangkan pada urin sample B yang tidak terjadi perubahan warna menunjukan bahwa pemilik urin sample B tidak memiliki kelainan dan sehat.
Pada percobaan yang kedua, yaitu uji albumin dalam urin. Pengujian ini menggunakanlarutan asam nitrit. Hasil yang didapatkan adalah pada urin sample A maupun urin sample B tidak terbentuk cincin putih pada permukaan urin. Ini menandakan bahwa urin sample A maupun B tidak mengandung albumin. dan pemilik urin sample tersebut sehat. Namun apabila urine tersebut terbentuk cincin putih pada permukaannya maka urin tersebut mengandung albumin atau protein, berarti orang yang memiliki urine tersebut mengalami kebocoran protein, dan menunjukan bahwa adanya gangguan pada ginjal yang tidak dapat menyaring urin dan dapat juga adanya kerusakan pada organ ginjal.
Idealnya albumin tidak harus hadir dalam urin, tetapi bila ginjal tidak bekerja dengan benar, albumin mungkin melewati glomeruli dan menemukan jalan ke dalam urin. Tingkat albumin tinggi adalah indikasi dari glomeruli rusak atau cacat dalam ginjal seseorang. Jadi, menentukan tingkat albumin urin dapat membantu dalam mendiagnosa apakah seseorang menderita setiap penyakit ginjal atau tidak. Umumnya orang yang menderita diabetes tipe 1 berada pada peningkatan risiko albuminuria. Kondisi lain yang mungkin memiliki efek buruk pada fungsi ginjal dan albuminuria penyebab termasuk hipertensi, sirosis hati, gagal jantung atau lupus eritematosus sistemik.
Ada pula penyakit yang menunjukan adanya albumin dalam urin, yaitu Sindroma Nefrotik dan FSGS. Pertama-tama, penyakit ini nama lengkapnya adalah FSGS (Focal Segmental Glomerulo sclerosis). Penyakit ini sekitar 70-80% muncul sebagai sindroma nefrotik. Penyebab Sindroma Nefrotik 80 % disebabkan penyakit saringan ginjal (Glomerulo Nephritis), sedangkan 20% karena penyakit lain, antara lain Kencing Manis, Penyakit Lupus, Hepatitis, dan sebagainya.
Proteinuria. Kebocoran protein di urine yang terjadi melalui saringan ginjal bersifat nefrotoksis (“racun” terhadap ginjal) artinya secara bertahap akan merusak ginjal. Proteinuria ini merangsang proses inflamasi di pipa tubulus dan akhirnya membuat jaringan ginjal menjadi jaringan parut (fibrosis). Makin banyak proteinuria, makin berat proses kerusakannya.
Pada percobaan ke-3 yaitu pengujian kandungan klorida di dalam urin. Seperti pada percobaan sebelumnya, praktikan menggunakan 2 sampel urin yaitu, A dan B. Pertama, dimasukkan 5 ml urin A dan B ke dalam tabung reaksi berbeda kemudian ditetesi AgNO3 beberapa tetes. Hasilnya pada sampel A dan B terdapat adanya endapan putih yang artinya menunjukkan hasik positif terhadap uji klorida.
Klorida yang terdapat dalam urineberasal dari garam-garam yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan misalnya NaCl yang kemudian dalam cairan tubuh akan terurai menjadi ion-ion, oleh karena itu klorida terdapat dalam urin. Dalam tubuh NaCl diuraikan menjadi Na+ dan Cl-. Na+ difiltrasi dalam jumlah besar tetapi ia akan mengalami transpor secara aktif disemua bagian nefron kecuali pada bagian ansa Henle yang tipis. Dalam keadaan normal, 96% – 99% Na+ yang difiltrasi akan direabsorpsi. Sedangkan ion Cl- diabsorpsi secara pasif di bagian tubulus kontortus distal dan terjadi sekresi aktif ion Cl- di bagian lengkung henle. Klorida selalu terdapat dalam urin, pada filtrasi molekul-molekul kecil seperti glukosa dan garam mineral direabsorpsi melalui transport aktif. Kelebihan NaCl yang dihasilkan dari proses augmentasi dikeluarkan lewat urine dalam bentuk ion Cl- dan Na+ . Pengeluaran NaCl tergantung pada banyaknya NaCl yang masuk. Reaksi yang terjadi
NaCl → Na+ + Cl- AgNO3 + NaCl → AgCl + NaNO3.
Pada percobaan ke-4 yaitu pengujian kandungan amonia di dalam urin. Seperti pada percobaan sebelumnya, praktikan menggunakan 2 sampel urin yaitu, A dan B. Pertama, dimasukkan 1 ml urin A dan B ke dalam tabung reaksi berbeda kemudian dipanaskan dengan lampu spirtus. Hasilnya pada sampel A dan B tercium bau amonia. Pada sampel A bau amonia lebih menyengat sedangkan pada sampel B bau amonia tidak terlalu menyengat. Hal ini dikarenakan, adanya perbedaan kandungan amonia di dalam tubuh sampel. Pada sampel A warna urin kuning pekat jadi diperkirakan lebih banyak zat-zat yang terkandung di dalamnya karena sedikit air. Sedangkan sampel B warna urin lebih cerah yang berarti urin lebih encer dan banyak mengandung air. Pemanasan dilakukan untuk menguraikan urea menjadi ion-ion ammonia kembali sehingga tercium bau ammonia yang khas yaitu bau pesing.
Amonia ialah substansi yang teramat beracun dan terhimpunnya dalam tubuh dengan cepat bisa berakibat fatal. Amonia berasal dari deaminasi asam amino yang terjadi terutama di dalam hati, tetapi di dalam ginjal juga terjadi pula proses deaminasi amonia (NH3) dapat juga berasal dari pembongkaran protein dan berbahaya bagi sel. Akan tetapi hati terdiri atas suatu sistem molekul pembawa dan enzim-enzim yang dengan cepat mengubah amonia (dan karbon dioksida) menjadi urea. Ion amonia berasal dari peruraian urea, CO(NH2)2 menjadi ammonium karbonat, (NH4)2CO3 oleh enzim urease. Amonia merupakan persenyawaan yang sangat bersifat racun, Oleh karena itu amonia harus di keluarkan dari tubuh namun sebelum di keluarkan harus di rombak dahulu menjadi urea. Urea yang dikandung oleh urin dapat menjadi sumber nitrogen yang baik untuk tumbuhan dan dapat digunakan untuk mempercepat pembentukan kompos.

Tabel Hasil Pengamatan Kandungan Zat di dalam Urin
Sampel Pengujian
Glukosa Albumin Klorida Amonia
A + - + +
B + - + +

Perbandingan kadar zat sisa metabolisme dalam plasma darah dan dalam urin
Macam zat Persentase dalam plasma Presentase dalam urin Kenaikan
Air 92 95 +
Protein 7-9 - -
Glukosa 0.1 - -
Na+ 0.3 0.35 1x
Cl- 0.3 0.7 2x
K+ 0.02 0.15 7x
PO42- 0.009 0.15 16x
SO42- 0.002 0.18 90x
NH4+ 0.0001 0.4 400x
Asam urat 0.04 0.05 12x
Urea 0.03 2.0 60x
Kreatinin 0.001 0.075 75x

Kesimpulan

1. Urin menunjukkan hasil positif terhadap uji klorida yaitu ditandai dengan adanya endapan warna putih.
2. Kandungan ion Cl- yang dikeluarkan dalam urin tergantung dari banyaknya NaCl yang masuk ke dalam tubuh.
3. Urin menunjukkan hasil positif mengandung amonia yaitu dengan adanya bau pesing.
4. Amonia bersifat racun, ammonia merupakan hasil deaminasi asam amino sehingga harus segera diubah menjadi urea dan dikeluarkan dari tubuh melalui urin.
Daftar Pustaka

Campbell, N.A., Reece, & L.G. Mitchell. 2005. Biologi. Edisi ke-5 Terj.dari Biology. 5th ed. oleh Manalu, W. Jakarta: Erlangga.
Kimball, John. W. 1983. Biologi. Edisi ke-5 Terj.dari Biology. 5th ed. Oleh Soetarmi, Siti. Jakarta: Erlangga
Anonim. 2011. PRAKTEK UJI URIN. http://www.scribd.com/doc/86324828/38400737-PRAKTEK-UJI-URIN-2. Diakses 16 April 2012 pkl. 11.32 WIB
Pedia, Alba. 2010. Laporan Praktikum Fiswan Uji Urin. http://reliad-alba.blogspot.com/2011/10/laporan-praktikum-fiswan-uji-urin.html. Diakses 16 April 2012 pkl. 11.35 WIB
Rohyami. 2012. Uji Kualitatif Urin. http://rohyami.staff.uii.ac.id/2012/04/10/ujikualitatif-urine/. Diakses 16 April 2012 pkl. 11.45 WIB

About these ads
 
1 Komentar

Posted by pada 5 Mei 2012 in Biologi

 

One response to “Laporan Fiswan Sistem Ekskresi

  1. Adi

    21 Mei 2013 at 9:20 am

    Asslmkm, mohon pnjlsan bila ada endapan putih pada urin balita 3th, kira2 brbahaya ato tidakh, anak sya sakit muntah+berak, +demam panas +-3hari, saat kncing ada endapan ptih. Tolong bls lewat e-mail, ato call 087802953212 utk sharing. Trimaksh. Adi

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: