RSS

makalah tentang makanan dan minuman

13 Mei

A. Hukum Islam Mengenai Makanan dan Minuman
Dalam pandangan Islam, makanan ini dipandang punya nilai ibadah. Islam sangat memperhatikan persoalan makanan, dan menempatkannya sebagai kebutuhan esensial yang sangat penting untuk kelangsungan kehidupan manusia. Sehubungan dengan itu, manusia diperintahkan untuk memakan makanan yang halal dan baik, dan meninggalkan makanan yang haram.
Dalam surat Al-Baqarah ayat 168,yang artinya:
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-kah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
Dalam memilih makanan, selain harus halal, juga harus thayyibah: bergizi, sehat, aman, dan bermanfaat. Bahkan lebih dari itu, hukum Islam mengenai makanan juga menjangkau bagaimana makanan itu diolah, atau dimasak, bagaimana rezeki diperoleh dan dimanfaatkan. Rasulullah menggambarkan betapa pentingnya memperoleh rizki secara halal dalam kaitannya dengan do’a yang dapat diterima oleh Allah. Sebagaimana diungkapkan dalam hadist berikut:
Dari Abi Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw bersabda,
“Sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima sesuatu kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang Mu’min dengan apa yang telah diperintahkan kepada Rasul-rasul maka Allah telah berfirman, “Hai Rasul-rasul! Makanlah dari segala sesuatu yang baik dan bekerjalah kamu dengan pekerjaan yang baik.” Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman! Makanlah dari apa yang telah Kami rizkikan padamu.” Kemudian beliau menceritakan seorang lelaki yang telah jauh perjalanannya, rambutnya kusut penuh debu. Dia berkata: Wahai Rabbi, Wahai Rabbi sedang makanannya haram, pakaiannya haram dan kenyang dengan barang haram maka bagaimana akan diterima do’anya? (H.R. Muslim)
Kata halal berasal dari akar kata yang berarti lepas, atau tidak terikat. Sesuatu yang halal adalah yang terlepas dari ikatan-ikatan bahaya (duniawi dan ukhrawi). Karena halal itu juga berarti boleh. Sedangkan kata thayyib pada mulanya berarti “yang bebas dari kekurangan (dalam bidangnya)”, serta “bebas dari segala kekeruhan”. Disamping diperintahkan agar makanan itu halal dan thayyib, juga bersamaan dengan itu diperintahkan agar makanan tersebut sedap dan berakibat baik (fa akuluhu hani’an mariaa), yakni makanlah yang sedap lagi baik akibatnya, Q.s Annisa, 4:4. Akibat yang dimaksud disini tentu saja adalah akibat dunia dan akhirat.
Ketika Al-Qur’an berbicara tentang makanan yang diharamkan, juga diberikan penjelasan sebab larangan tersebut, misalnya dengan ungkapan innahu fisq (Q.S Al-An’am,6;121). Kata fisq secara etimologis berarti “keluar atau melampaui batas”, juga diartikan “sebagai buah-buahan yang terlalu matang”. Apakah kata fisq ini tidak mengandung isyarat tidak dianjurkannya memakan makanan yang terlalu masak atau matang, karena makanan yang demikian gizinya kurang sempurna?
Disamping menamai makanan yang haram dengan fisq, Al-qur’an juga menamainya dengan rijs, misalnya dalam ungkapan illaa an yakuuna maitatan, awu daman, awu masfuhan, awu lahmal khinziirin, faiinahu rijsun awu fisq (Q.S. Al Anam,6, 145).
Menurut ajaran Islam, kelaparan (miskin) dapat menyebabkan kekufuran. Sebaliknya manusia yang tidak lapar dan memakan makanan yang halal dan thayyib berpeluang menjadi hamba yang shaleh. Do’a dan amal shalehnya diterima Allah SWT. Seiring dengan ini Tuhan telah menciptakan bumi lengkap dengan segala isinya untuk manusia, sebagaimana firmanNya yang artinya: Dialah Allah yang Maha menjadikan untukmu segala yang ada di bumi….”(Q.S. Al Baqarah: 29)
Dalam hal ini, Allah telah pula memberikan petunjuk kepada manusia untuk selalu makan makanan yang halal lagi baik (Thayyib), sebagaimana firman-Nya yang artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.(Q. S Al-baqarah: 168)
Penetapan halal dan haramnya sesuatu, termasuk makanan, merupakan hak Allah, sesuai dengan sabda Rasul SAW:
“Bahwasanya yang halal itu ialah yang dihalalkan Allah dalam kitabNya, dan yang haram ialah yang diharamkan Allah dalam kitabNya. Apa-apa yang Allah mendiamkannya (tidak menyinggungnya) maka ia termasuk hal yang dimaafkan Allah.”

Sabda Rasulullah tersebut memperingatkan agar manusia tidak mengada-ngada dan tidak menjatuhkan sesuatu, termasuk hukum haram makanan. Sebab hal itu hanya hak Allah, bukan hak manusia. Allah juga melarang orang-orang beriman mengharamkan apa-apa yang dihalalkan Allah seperti dalam firmanNya pada surat Al-Maidah ayat 88.

“Dan makanlah makan yang halal lagi bik dari apa yang Allah telah telah berikan rezekinya kepadmu bertaqwalah pada Allah yang kamu beriman pada-Nya.”(QS. Al Maidah : 88).
B. Konsep Makanan dan Minuman Toyyibah
Pada dasarnya, Allah menghalalkan semua makanan yang termasuk thayyibah dan mengharamkan semua makan yang termasuk khabitsah. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
“Yaitu orang-orang yang mengikut Rasul, nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam injil dan taurat yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang makruf dan melarang mereka mengerjakan yang munkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka.”( Al A’raf, 7: 157)
Ketika menafsirkan kata Thayyib dalam Al-Quran yang dihubungkan dengan makanan, para ahli tafsir merumuskan istilah tersebut seperti berikut :
1. Thayyib, adalah makan yang tidak dianggap kotop dari segi zat atau karena telah rusak (kadaluarsa) zatnya tersebut atau karena dicampuri benda najis.
2. Thayyib adalah makanan yang sesuai dengan fitrah mausia yang selalu sehat dan proporsional dalam menikmatinya.
3. Thayyib adalah makanan yang mengandung selera bagi orang yang akan memakannya dan tidak membahayakan fisik dan akalnya.
4. Kata Thayyib, digunakan untuk makna sesuatu yang lezat dan tidak ada unsur yang membahayakan bagi pemakannya, bersih, dan tidk ada kotoran, dan bahkan bisa berarti halal.
Dari beberapa rumusan Thayyib yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa makanan yang thayyib adalah makanan yang sehat, proporsional, lengkap, aman, serta halal. Makanan dan minuman yang halalan thoyyibah atau halal dan baik serta bergizi tentu sangat berguna bagi kita, baik untuk kebutuhan jasmani dan rohani. Apabila makanan dan minuman yang didapatkan dari hasil yang halal tentu sangat berguna untuk diri kita dan keluarga kita. Hasil dari makanan minuman yang halal sangat membawa berkah, barakah bukan bererti jumlahnya banyak, meskipun sedikit, namun uang itu cukup untuk mencukupi kebutuhan sahari-hari dan juga bergizi tinggi. Bermanfaat bagi pertumbuhan tubuh dan perkembangan otak. Lain halnya dengan hasil dan jenis barang yang memang haram, meskipun banyak sekali, tapi tidak barokah, maka Allah menyulitkan baginya rahmat sehingga uangnnya terbuang banyak hingga habis dalam waktu singkat.
Allah telah membuat kreteria makanan yang boleh dikonsumsi dengan standar halalan thayiban. Halalan di sini berarti jenis makanan yang diperbolehkan dikonsumsi dan tidak diharamkan. Sedangkan thayyiban berarti semua jenis makanan yang memberi manfaat manusia karena telah memenuhi syarat kesehatan (misalnya: gizi, protein, higienis, dll.) tidak najis, tidak memabukkan, tidak membawa pengaruh negatif bagi kesehatan fisik dan psikis, serta diperoleh dengan cara yang halal. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah, 2: 168, sebagai berikut.:
يَاأَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
C. Hubungan antara Makanan Toyyibah dan Makanan Halal
Dalam surat Al-A’raf ayat 15 dan Q.S. AL-Maidah ayat 88 dinyatakan secara jelas hubungan langsung antara thayyib dengan halal sebagai berikut :
…. وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ ….
“….dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…”

“Dan makanlah makan yang halal lagi bik dari apa yang Allah telah telah berikan rezekinya kepadmu bertaqwalah pada Allah yang kamu beriman pada-Nya.”
Menurut ahli tafsir, kalimat ini merupakan kalimat yang menyebutkan secara sempurna hubungan antar makanan yang thayyib dengan makanan yang halal. Sebab, menurut pendapatnya, tanpa menyebut kata thayyib dalam kalimat ini sebenarnya maknanya sudah jelas. Tambahan kata ini ingin menggambarkan makanan yang halal itu pada dasarnya sesuai dengan fitrah manusia yang ingin sesuatu yang bercita rasa dan baik, dan sebaliknya manusia tidak menginginkan sesuatu yang kotor dan tidak baik.
Untuk merespon persoalan-persoalan perkembangan dan keterlibatan IPTEK dalam perkembangan agar masyarakat Muslim tidak dirugikan, apakah secara keagamaan maupun kesehatan, terhindar dari makanan yang tidak SAH (tidak sehat, aman, dan tidak halal), perlu labelisasi produk. Labelisasi ini menjamin bahwa makanan yang diedarkan SAH. Selanjutnya, mengingat tidak mudahnya menditeksi ‘SAH’ tidaknya suatu makanan akibat campur tangan IPTEK, maka perlu diciptakan kebijakan yang menetapkan hukum SAH-nya makanan sebagai keputusan bersama dari berbagai ahli dan instansi-intansi terkait seperti MUI, Lembaga Teknologi Pangan dan Gizi, Lembaga Konsumen, Perguruan tinggi agama Islam, Departemen Kesehatan, dan sebagainya.

D. Hukum Makanan dan Minuman yang diproduksi Non-Muslim
Setelah membahas kethayyiban pangan di atas, kita akan beranjak pada status hukum pangan tersebut. Tidak terhitung banyaknya makanan dari luar yang masuk ke dalam negeri, salah satu contoh makanan impor yang biasa dibeli atau diterima oleh masyarakat Indonesia adalah daging ayam dan daging kaleng. Ayam dan daging kaleng atau makanan lain yang diimpor dari luar negeri bermacam-macam, diantaranya ada yang berasal dari ahlul kitab dan dari orang ateis. Karena Negara Indonesia adalah Negara Islam, yang mayoritas memeluk agama Islam dan sebagiannya adalah ahlul kitab, maka produksi makanan dari dalam negeri bisa berasal dari orang muslim dan Ahlul kitab.
Untuk daging kaleng atau daging yang dikemas dalam bungkus, cara-cara yang dibutuhkan untuk menyembelih hewan supaya menghasilkan makanan yang halal bagi konsumsi manusia telah diketahui umum.
Menurut empat madzhab Sunni, menyembelih berarti memotong tenggorokan (halqum), esophagus (mar’i) dan pembuluh (wadjuyn), meskipun ada perbedaan pendapat tentang apakah pemotongan pembuluh itu diharuskan atau dianjurkan saja. Namun demikian, cara-cara penyembelihan modern yang menggunakan mesin dan kemungkinan ikut serta orang Non-Muslim (seperti dalam perdagangan ekspor) menimbulkan definisi yang penting mengenai halal. Implikasi ekonominya bersifat langsung.
Sekalipun masalah tersebut telah banyak disorot pada beberapa tahun terakhir, tetapi kita perlu mengingat bahwa hali ini bukanlah hal yang baru. Kita dapat kembali melihat pada dua Fatwa Persis pada tahun1930-an, yang jelas menyatakan masalah itu bagi kita pada tahun 2000. Fatwa yang pertama merupakan uraian yang panjang dan rumit dalam empat bagian dan mengemukakan beberapa hadist dengan cara memotong-motong. Tidak ada yang menarik pada bagian ini. Fatwa yang kedua dan cukup menarik adalah tentang membuat hewan pingsan sebelum disembelih.
Sekarang ini kami menerangkan hal binatang yang dipingsankan sebelum disembelih dengan listrik, atau dengan kloroform.
Menurut pendapat saya, binatang yang dipingsankan dengan listrik, lebih dahulu sebelum disembelih itu, hukumnya halal dimakan, asal saja binatang itu disembelih sebelum mati. Dan sebagian dari tanda yang membuktikan bahwa binatang itu belum mati, yaitu tatkala disembelih akan mengalir darinya darah merah yang encer. Adapun jika disembelih lalu keluar darah darinya darah hitam yang kental, ini membuktikan, bahwa dia itu sudah mati. Maka dengan keadaan tersebut, teranglah bahwa sembelihan itu haram dimakan.
Adapun binatang yang dipingsankan dengan bius, lebih baik daripada dengan listrik oleh karena jika dengan lisrtik itu dapat dipandang sebagai menganiaya sedang penganiayaan itu diharamkan oleh agama, walaupun terhadap binatang. Jiga dengan bius tidak begitu, malahan bisa melenyapkan rasa sakit. Ini boleh dimasukkan kepada yang dikehendaki nabi.
Fatwa MUI yang pertama pada 1981 membolehkan penyembelihan denga mesin asalkan operatornya orang Islam, dan, kedua, bagian-bagian mesin tidak melanggar kaidah fiqih unuk alat-alat penyembelihan. Fatwa yang kedua membolehkan membuat pingsan hewan sebelum disembelih asalkan tidak ada unsure penyiksaan dan penyalahgunaan.
Hanya ada satu fatwa dari MUI (1976) yang digambarkan secara terperinci oleh mudzar dan, sebagaimana ditunjukkan oleh dia. Fatwa tersebut berbunyi:
Penyembelihan hewan dengan alat mesin mencerminkan modernisasi yang menunjukkan kasih sayang pada hewan-hewan yang disembelih sesuai dengan perintah nabi dan memenuhi persyaratan salah seorang diantara kamu menajamkan pisau untuk membuat kebahagiaan pada hewan saat disembelih sehingga hewan itu tidak tersiksa dalam penyembelihannya. Karena itu, diharapkan bahwa orang Islam tidak usah merasa ragu mengenai ini.
Persyaratan yang harus dipenuhi untuk penyembelihan hewan sesuai dengan Islam dikemukakan oleh empat madzhab dan hadist yang diriwayatkan oleh para sahabat nabi. Hadist yag diriwayatkan oleh Muslim dan Syadad bin Aus mengenai persyaratan untuk berlaku kasih dalam semua tindakan adalah:
“Sesungguhnya Allah mengharuskan perbuatan baik dalam semua tindakan. Jika kamu diharuskan membunuh maka lakukanlah dengan cara yang penuh kasih sayang, dan jika kamu diharuskan menyembelih maka lakukanlah dengan cara-cara yag penuh kasih sayang.”
Mengenai halal dan haramnya memakan daging sapi kalengan import, dapat dijelaskan sebagai berikut.
Sembelihan yang boleh dimakan oleh orang Islam ada dua macam. Yang pertama, sembelihan orang Islam dengan sesuatu yang tajam ( bukan gigi dan bukan kuku) di leher binatang yang akan disembelih, dengan membaca bismillah, dan hendaklah putus urat lehernya. Dan hendaklah dengan cepat supaya ringan. Yang kedua, sembelihan dari Alhlul kitab, Yaitu Yahudi dan Nasrani.

1. Makanan dari Ahlul Kitab
Al-Qur’an memperbolehkan kita memakan makanan dan sembelihan yang berasal dari ahlul kitab. Firman Allah SWT:
“…Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka….” (Q.S. Al Maidah:5)
Sebagaimana sembelihan orang Islam, kalau tidak menurut cara Islam tidak sah, begitu sembelihan orang Yahudi atau Kristen yang tidak menurut agamanya, tentu tidak sah. Karena itu, kalau daging kaleng disembelih secara Islam atau secara Ahlul kitab, tentu halal dimakan.
Namun demikian, cara menyembelihnya harus diketahui dan harus disebut nama Allah ketika melakukannya, demikian syarat yang harus dipenuhi menurut sebagian kaum muslim. Sedangkan sebagian lagi mempermudah urusan ini dengan alasan bahwa Nabi SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada suatu kaum yang datang kemari dengan membawa daging, sedang kami tidak tahu apakah mereka menyebut nama Allah atau tidak pada saat menyembelihnya.” Kemudian Beliau bersabda: “Sebutlah nama Allah atasnya dan makanlah.”(HR. Bukhari)
Dari peristiwa ini, sebagian ulama menetapkan kaidah bahwa apa yang ghaib (tidak terlihat) bagi kita tidak perlu kita pertanyakan. Apabila kita mengetahui suatu makanan dari ahli kitab, kemudian kita sebut nama Allah pada waktu hendak memakannya, maka hal itu dianggap sudah cukup.

2. Makanan dari Orang Bukan Ahli kitab
Adapun daging sembelihan yang datang dari orang-orang bukan ahli kitab atau orang dari negara komunis misalnya, tentu saja hal ini berbeda dengan kasus sebelumnya. Sebab, sebagaimana kita ketahui, dalam pandangan Islam, penyembelihan memiliki syarat-syarat tertentu, antara lain mengenal bagian tubuh binatang yang harus disembelih, alat yang digunakan, dan orang yang menyembelihnya. Misalnya, alat sembelihannya harus tajam, tempat yang disembelih adalah leher, sempurnanya penyembelihan dengan dipotongnya tenggorokkan dan terputusnya dua urat leher, dan yang menyembelih adalah orang muslim. Maka tidak semua penyembelih halal sembelihannya. Hanya sembelihan orang Islam dan ahlul kitablah yang dihalalkan.

3. Makanan dari Orang yang Mempunyai Kitab Suci
Sebagian lagi memasukkan orang yang mempunyai kitab suci sebagai orang yang boleh dimakan sembelihannya. Misalnya orang Majusi, walaupun jumhur fuqaha tidak memperbolehkan memakan makanan sembelihan orang majusi, dengan alasan hadist Rasul berikut:
“Perlakukanlah mereka (kaum majusi) seperti perlakuanmu terhadap ahlul kitab, hanya saja tidak boleh menikahi perempuan mereka dan tidak boleh memakan sembelihan mereka.”
Bagian terakhir hadist ini yakni “Hanya saja tidak boleh menikahi perempuan-perempuan mereka dan memakan sembelihan mereka”, bersanad dhaif. Karena itu Abu Tsaur dan Ibnu Hazm serta beberapa ulama lainnya tidak mengambilnya sebagai dalil, dan mereka memperbolehkan orang muslim memakan sembelihan ahli kitab dan orang yang mempunyai kitab suci semisal kaum Majusi.
Perlu ditekankan bahwa larangan memakan sembelihan sembarang penyembelih, karena penyembelih diisyaratkan harus muslim atau orang beriman kepada kitab samawi, disebabkan menyembelih binatang berarti melenyapkan ruh ciptaan Allah Azza wa Jalla. Maka dalam hal ini Allah hanya mengizinkan orang beriman kepada-Nya dan beriman bahwa Dia menurunkan wahyu, serta beriman akan adanya akhirat. Sedangkan persyaratan demikian hanya dipenuhi apabila oleh Muslim dan Ahli kitab.
Adapun orang yang mengingkari risalahNya, serta tidak mengakui kekuasaanNya, maka Allah tidak memberi mereka hak untuk menyembelih atau melenyapkan nyawa semua jenis binatang. Mereka tidak mempunyai hak dan tidak mempunyai izin dari-Nya.
Oleh karena itu, ketika hendak menyembelih seorang Muslim mengucapkan “Bismillahirrrahmaanirrohiim”, (dengan menyebut nama Allah, dan Allah Maha Agung). Artinya, “saya menyembelih dan melenyapkan nyawa ini denga izin Allah, saya mendapat perkenan Ilahi untuk menghilangkan nyawa ini, dan makhluk hidup ini saya bunuh dengan nama Allah.”
Maka bagaimana mungkin orang yang secara mutlak tidak mengakui adanya Allah diperbolehkan melakukan hal ini? Mana mungkin mereka akan diberi hak dan rukhsah ini?
Ijma’ Ulama menetapkan bahwa orang murtad dan orang ateis yang tidak beriman kepada Allah dan kepada risalah-Nya, tidak beriman kepada agama samawi dan kitab suci yang diturunkannya, serta tidak beriman kepada nabi dan rasul Allah, seperti orang komunis, sembelihannya tidak halal dimakan kaum muslim. Karena itu seorang Muslim tidak boleh memakan daging dan lainnya yang diimport dari Negara komunis, karena binatang tersebut disembelih oleh kaum yang mengingkari adanya Allah Azza wa Jalla.
Bagitulah gambaran kondisi umum mereka. Meskipun disana mereka kita dapati orang Islam atau Nasrani, namun sikap masyarakat yang pada umumnya memerangi agama, memerangi Allah, mengingkari wahyu, menganggap agama sebagai pengrusak serta penghambat kemajuan, bahkan menganggapnya sebagai candu, mengharuskan para pemeluk agama umumnya, dan bagi kaum muslim khususnya, untuk menolak sembelihan mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak berhak menyembelih dan membunuh makhluk bernyawa dan semua makhluk hidup. Allah tidak memberi hak kepada mereka untuk melakukan semua itu.
Mengenai minuman, jika minuman tersebut adalah khamr atau mengandung khamar atau alkohol, dan itu di produksi dan dijual baik oleh orang Muslim maupun non-Muslim, maka hukumnya tetap haram. Selain minuman tersebut, maka semua minuman yang dijual Non-Muslim halal hukumnya diminum oleh orang Muslim. Larangan minuman keras ditegaskan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 219.
Pertama, ditegaskan bahwa khamr mengandung dosa besar (ism kabir), padahal dosa adalah haram sesuai dengan firman Allah surat Al-‘araf ayat 33:
Katakanlah, tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa dan melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar.
Kedua, khamr mengandung dosa, sedang dosa itu haram, tentu mengandung siksa pula dan dosa. Karena itu tidak bisa khamr adalah tidak haram.
Ketiga, penegasan bahwa dosa khamr dan maisir lebih besar dari pada manfaatnya, lebih menegaskan arti dan siksa itu sendiri. Dengan demikian, sebelum penegasan dalam surat Al-Maidah, sebenarnya sudah dapat diambil kesimpulan bahwa khamr adalah haram. Khamr termasuk seburuk-buruk dosa dan bahaya yang mengancam kehidupan pribadi dan masyarakat. Dari khamr akan timbul rentetan perbuatan lain yang sejenis, yaitu judi, kepalsuan (berhala) dan untung-untungan (undian). Seperti tercantum dalam Q.S. Al-Maidah berikut :

“Wahai orang beriman sesungguhnya arak (khimar), berjudi, qurban untuk berhala, undian dengan panah adalah dosa dan termasuk perbuatan syaitan, maka juhilah agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS.Al Maidah :90)
Khamr dalam pengertiaan bahasa arab (makna lughawiyah) ”menutupi”. Disebut khamr karena sifatnya bisa menutupi akal. Sedangkan dalam pengertian syara’ khamr adalah setiap minuman yang memabukkan. Jadi khamr tidak terbatas dari bahan anggur saja, tetapi minuman yang memabukkan, baik dari bahan anggur ataupun lainnya. Pengertian ini disimpulkan berdasarkan beberapa hadis Nabi SAW. Di antaranya adalah hadis dari Nu’an bin Basyir ra bahwa rasulullah bersabda: “sesungguhnya dari biji gandum itu terbuat dari khamr, jewawut itu terbuat dari khamr, dari kismis terbuat dari khamr, dari kurma terbuat dari khamr, dan dari madu terbuat dari khamr” (HR. Jama’ah, kecuali An Nasa”). Kemudiaan hadis dari Ibnu Umar ra Rasulullah bersabda: “setiap yang memabukkan itu adalah khamr, dan setiap khamr itu haram”. (HR. Muslim).
Dari keterangan beberapa hadis di atas menunjukkan bahwa khamr tidak terbatas terbuat dari perasan anggur, tetapi mencakup semua yang bisa menutupi akal dan memabukkan. Setiap minuman yang memabukkan dan menutupi akal disebut khamr, baik itu terbuat dari anggur, gandum, kiwi, madu, kurma ataupun lainnya. Sifat mengacaukan akal itu di antaranya dicontohkan dalam Al-Quran yaitu membut orang menjadi tidak mengerti lagi apa yang diucapkan seperti dapat dilihat pada Surat An-Nisa: 43: “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu shalat sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan”. Berarti hal ini merupakan pengertian syari’ yang disampaikan Rasul dalam hadis-hadisnya. Jika khamr diharamkan karena zatnya, sementara hadis diatas menyatakan ”setiap yang memabukkan itu adalah khamr”, jadi dapat disimpulkan bahwa sifat yang melekat pada zat khamr adalah memabukkan. Karena sifat utama khamr itu memabukkan, maka mengetahui keberadaan zat khamr atau untuk mengenali zatnya adalah dengan meneliti zat-zat apa saja yang memiliki sifat memabukkan. Kini setelah dilakukan penelitian fakta oleh para kimiawan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa zat yang memiliki sifat yang memabukkan dalam khamr adalah etil alkohol atau etanol.
Etil alkohol atau etanol atau alkohol (C2H5OH) adalah senyawa-senyawa dimana satu atau lebih atom hidrogen dalam sebuah alkana digantikan oleh gugus –OH. Biasanya alkohol di peroleh atas peragian / fermentasi madu, gula, sari buah atau umbi-umbian. Dari peragian tersebut dapat diperoleh alkohol sampai 15 % tetapi peroses penyulingan (destilasi) dapat dihasilkan kadar alkohol yang lebih tinggi bahkan mencapai 100 %.
Alasan mengapa khamr diharamkan ialah:
1. Pada dasarnya khamr adalah rijs dan merusakkan akal.
2. Merupakan bagian dari perbuatan syaitan karena itu harus dijauhi.
3. Karena ada hubungan timbal balik antara khamr dan judi, dan perbuatan keji dan dosa lain, yang menimbulkan rasa permusuhan dan kebencian
4. Akibat selanjutnya, pelakunya akan lupa kepada Allah, dan lupa kewajibannya untuk beribadah kepada-Nya.
Dari Abu Hurairah ditegaskan bhwa khamr dibuat dari dua pohon ini, kemudian rasul menunjuk pada pohon anggur dan pohon kurma.
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, dari Ummar bin khatab, dikatakan bahwa Rasulullah mengatakan, “diturunkannya khamr yaitu ada lima. Yaitu anggur, korma, madu, biji gandum, dan tepung gandum (terigu). Khamr adalah yang merusak akal.”
Tetapi masih terbuka kemungkinan lain bukan hanya sekedar lima, hanya praktek yang dikenal ketika itu khamr dibuat dari bahan-bahan tersebut.
Setelah pembahasan di atas, hukum halal haramnya makanan dan minuman dari orang-orang non-Muslim bisa terkait beberapa aspek, sebagai berikut:
a. Bahan-bahan makanan dan minuman. Apakah makanan dan minuman tersebut termasuk ke dalam pangan yang diharamkan seperti yang telah dicantumkan Al-Quran atau tidak.
b. Cara-cara dan proses pengolahan makanan dan minuman. Apakah pengolahannya sudah sesuai dengan syariat Islam atau tidak, misalnya dalam cara penyembelihan. Apakah ketika pengolahan, makanan yang diolah itu tercampur bahan najis atau tidak.
c. Alat-alat yang digunakan dalam pengolahan. Apakah alat-alatnya najis atau tidak, tajam atau tidak, dan sebagainya.
d. Orang-orang yang memproduksi atau menyembelih hewan. Apakah dia Muslim, ahlul kitab, atau non ahlul kitab.

Daftar Pustaka

Hooker, MB. 2003. Islam Madzhab Indonesia. Jakarta Selatan: Penerbit Teraju
Menteri Agama Urusan Pangan RI. 1995. Makanan Indonesia dalam Pandangan Islam. Jakarta: Kantor Menteri Urusan Pangan RI
Qaradhawi, Yusuf. 2002. Fatwa-fatwa Kontemporer Jilid III. Jakarta: Gema Insani Press
Qaradhawi, Yusuf. 1996. Fatwa-fatwa Kontemporer. Jilid I. Jakarta: Gema Insani Press
Yanggo, Chuzaemah T. 2002. Problematika Hukum Islam Kontemporer. Jakarta: PT. Pustaka Firdaus

http://AnneAhira/makanan-dan-minuman-halal

http://kehidupanislam.wordpress/syariah/hukum-islam-tentang-makanan-dan-minuman

http://marhamahsaleh’sweblog/fiqihmakanandanminuman

About these ads
 
2 Komentar

Posted by pada 13 Mei 2012 in General

 

2 responses to “makalah tentang makanan dan minuman

  1. disaarifin

    27 Mei 2012 at 1:53 pm

    bagaimana menurut anda ttg kasus produk MSG yg salah satu proses/komposisinya menggunakan enzim yg diperoleh dr pankreas babi? halal atau haramkah?? mohon pnjelasannya

     
  2. novutripertiwi

    29 Mei 2012 at 10:23 pm

    ehem..
    silahkan di jawab pak..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: