RSS

LAPORAN PRAKTIKUM PERNAPASAN PADA HEWAN

25 Jul

A.     Dasar Teori

Sebagai suatu medium respirasi, udara mempunyai banyak keuntungan, salah satunya tentu saja kandungan oksigen yang tinggi. Selain itu, karena O2 dan CO2 berdifusi jauh lebih cepat di udara dibandingkan dengan di dalam air, maka permukaan respirasi yang terpapar ke udara tidak harus di respirasi secara menyeluruh seperti insang. Sementara permukaan respirasi mengeluarkan oksigen dari udara dan mengeluarkan karbon dioksida , difusi dengan cepat membawa lebih banyak oksigen ke permukaan respirasi dan membuang karbondioksida. Ketika hewan darat melakukan ventilasi, maka lebih sedikit energi yang dipakai karena udara jauh lebih mudah di gerakkan dibandingkan dengan air. Akan tetapi sebuah permasalahan yang mengalahkan keuntungan udara sebagai medium respirasi. Permukaan respirasi yang harus lebih besar dan lembab secara terus menerus akan kehilangan air ke udara melalui penguapan. Permasalahan itu diatasi dengan cara membuat permukann respirasi melipat ke dalam tubuh (Campbell, 2005).

Serangga mempunyai alat pernapasan khusus berupa sistem trakea, yang terbuat dari pipa yang becabang di seluruh tubuh, merupakan salah satu variasi dari permukaan respirasi internal yang melipat-lipat dan pipa yang terbesar itulah yang disebut trakea. Bagi seekor serangga kecil, proses difusi saja dapat membawa cukup O2 dari udara ke sistem trakea dan membuang cukup CO2 untuk mendukung sistem respirasi seluler. Serangga yang lebih besar dengan kebutuhan energi yang lebih tinggi memventilasi sistem trakeanya dengan pergerakan tubuh berirama (ritmik) yang memampatkan dan mengembungkan pipa udara seperti alat penghembus (Campbell, 2005).

Laju metabolisme adalah jumlah total energi yang diproduksi dan dipakai oleh tubuh per satuan waktu (Seeley, 2002). Laju metabolisme berkaitan erat dengan respirasi karena respirasi merupakan proses ekstraksi energi dari molekul makanan yang bergantung pada adanya oksigen. Secara sederhana, reaksi kimia yang terjadi dalam respirasi dapat dituliskan sebagai berikut: C6H12O6 + 6O2 → 6 CO2 + 6H2O +ATP  (Tobin, 2005).

Laju metabolisme biasanya diperkirakan dengan mengukur banyaknya oksigen yang dikonsumsi makhluk hidup per satuan waktu. Hal ini memungkinkan karena oksidasi dari bahan makanan memerlukan oksigen (dalam jumlah yang diketahui) untuk menghasilkan energi yang dapat diketahui jumlahnya. Akan tetapi, laju metabolisme biasanya cukup diekspresikan dalam bentuk laju konsumsi oksigen. Beberapa faktor yang mempengaruhi laju konsumsi oksigen antara lain temperatur, spesies hwan, ukuran badan dan aktivitas (Tobin, 2005).

 

KLASIFIKASI JANGKRIK

Kingdom     : Animalia

Filum          : Arthropoda

Class           : Insecta

Ordo           : Orthoptea

Famili         : Gryllidae

Genus         : Liogryllus

Spesies       : Liogryllus Sp.

B.      Tujuan

i. Mempelajari pernapasan hewan

ii. Melihat faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigen pada hewan pada saat bernapas.

C.       Rumusan Masalah

  1. Bagaimana pernapasan pada hewan?
  2. Adakah faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan oksigen pada hewan pada saat bernapas?

D.     HIPOTESIS

  1. Hipotesisi Kerja : Ukuran tubuh berpengaruh terhadap sistem  respirasi serangga
  2. Hipotesisi Nol   : Ukuran tubuh tidak berpengaruh terhadap sistem respirasi

Serangga

E.      Variabel

  • Variabel Kontrol : Jumlah O2
  • Variabel Bebas   : Massa
  • Variabel Respon : Laju Pernapasan serangga

F.       Alat dan Bahan

  1. Timbangan
  2. Jangkrik
  3. Kristal NAOH/KOH
  4. Vaselin/plastisin
  5. Kapas
  6. Pipet/ syiring
  7. Respirometer
  8. Eosin/tinta

G.     Langkah Kerja

 

  1. Ukurlah massa jangkrik
  2. Bungkuslah kristal NAOH/KOH dengan kapas, lalu masukan dalam tabung respirometer
  3. Olesi bagian pipa berskala dengan vaselin/ plastisin
  4. Masukan jangkrik kedalam botol respirometer kemudian tutup dengan pipa berskala
  5. Tutup pipa berskala dengan kurang lebih 1 menit, kemudian lepaskan dan masukan tetesan eosin dengan pipet / syring
  6. Amati dan catat perubahan kedudukan eosin pada pipa berskala setiap 2 menit selama 10 menit
  7. Lakukan percobaan yang sama dengan menggunakan jangkrik yang ukurannya berbeda

H.     Analisis Data

Tabel Hasil Pengamatan

No

Berat Tubuh Hewan (gram)

Skala kedudukan eosin per 2 menit

Volume (ml)

1

2

3

4

5

1

1,45

0,29

0,58

0,9

-

-

0,90

2

0,19

0,20

0,32

0,37

0,41

0,43

0,43

I.          Pengolahan Data

1)      Konsumsi rata-rata O2 pada jangkrik besar

 

2)      Konsumsi rata-rata Oksigen pada Jangkrik kecil

 

 J.          Pembahasan

Dalam percobaan ini digunakan KOH/ NAOH yang berfungsi sebagai pengikat CO2 agar organisme (jangkrik) tidak menghirup CO2 yang dikeluarkan setelah jangkrik bernapas dan pergerakan larutan eosin/tinta benar-benar hanya disebabkan oleh konsumsi oksigen. KOH dapat mengikat CO2 karena memiliki rumus reaksi:

KOH + CO2 → K2CO3 + H2O

Larutan eosin berfungsi sebagai indikator oksigen yang dihirup oleh organisme (jangkrik) pada repirometer sederhana. Larutan eosin selama percobaan selalu bergerak mendekati botol respirometer sederhana karena organisme dalam percobaan (jangkrik) dalam respirometer dapat menghirup udara O2 melalui pipa sederhana sehingga larutan eosin yang berwarna dapat bergerak.

Alat yang digunakan untuk mengukur kecepatan pernapasan adalah respirometer. Respirometer adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur kecepatan pernapasan beberapa hewan kecil seperti serangga. Prinsip kerja respirometer adalah alat ini bekerja atas suatu prinsip bahwa dalam pernafasan ada oksigen yang digunakan oleh organisme ada karbondioksida yang dikeluarkan olehnya. Jika organiseme yang bernapas itu disimpan dalam ruang tertutup dan karbondioksida yang dikeluarkan oleh organisme dalam ruang tertutup itu diikat, maka penyusutan udara akan terjadi. Kecepatan penyusutan udara dalam ruang itu dapat di amati pada pipa kapiler berskala.

Seperti hasil yang didapat, jangkrik berukuran lebih besar lebih banyak mengkonsumsi oksigen dilihat dari rata-rata konsumsi oksigen sebesar 0,59 per 2 menit. Sedangkan untuk jangkrik berukuran kecil mengkonsumsi oksigen sebesar 0,34 per 2 menit. Hal ini membuktikan bahwa ukuran tubuh mempengaruhi laju pernapasan pada hewan. Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi sistem respirasi adalah: berat tubuh, aktivitas tubuh, suhu tubuh, dan usia.

 K.      Kesimpulan

Pada hasil di atas jelas sekali bahwa ukuran tubuh mempegaruhi laju pernapasan, semakin kecil ukuran dan berat tubuh maka semakin cepat pernapasannya. Walaupun diatas ada sedikit kegagalan yaitu pernapasan pada jangkrik besar tidak sebagaimana mestinya. Karena pada jangkrik yang berukuran besar melakukan aktifitas yang berkemungkinan banyak melakukan pergerakkan, sehingga membutuhkan banyak oksigen.

 L.       Daftar Pustaka

 

Campbell,dkk. 2005. Biologi Jilid 3. Jakarta : Erlangga.

Seeley, R. R., T.D. Stephens, P. Tate. 2003. Essentials of  Anatomy dan Physiology fourth edition. McGraw-Hill Companies.

Tobin, A.J. 2005. Asking About Life. Thomson Brooks/Cole, Canada.

http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/529/jbptitbpp-gdl-biofagriar-26421-1-lapprak-i.pdf diakses pada tanggal 1 April 2012 pukul 17:40 WIB

http://ananditainformasi.blogspot.com/2011/06/laporan-praktikum-biologi-menguji.html diakses pada tanggal 1 April 2012 pukul 14:00 WIB

http://www.slideshare.net/SheJeweles/klasifikasi-jangkrik diakses pada tanggal 1 April 2012 pukul 17:42 WIB

 

 

 

 

 

 

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Posted by pada 25 Juli 2012 in Biologi

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: